Ibadah Minggu, 2 Februari 2025 (Pdm. Agustinus Samalle)
Kasih Dimulai dari Keluarga (Efesus 6:1-4)
Puji Tuhan minggu ini kita sudah memasuki bulan Februari, bulan kedua di tahun ini. Tema bulan Februari ini adalah Kasih dalam Keluarga. Setelah bulan lalu kita belajar untuk mengingat akan kebaikan dan Kasih Kristus, sekarang saatnya kita belajar mengaplikasikan Kasih itu dari dalam keluarga. Seperti yang kita tahu, bahwa keluarga adalah organisasi pertama yang dibentuk oleh Allah dengan inisiatifNya. Kita belajar ke topik utama mengasihi dalam keluarga dari Efesus 6:1-9, disana dibahas hubungan antara anak-anak dan orang tua, hamba dan Tuan dengan menekankan tanggung jawab masing-masing pihak dalam kasih dan ketaatan kepada Tuhan. Masalah yang terjadi dalam Surat Efesus adalah: 1) Ketegangan dalam Hubungan Keluarga; 2) Konflik dalam Hubungan Hamba dan Tuan; 3) Pengaruh Budaya Sekuler; 4) Kebutuhan akan Kesatuan dalam Jemaat. Ada 4 subjek yang menjadi fokus pengajaran surat Rasul Paulus, yaitu Anak – anak, Orangtua, Hamba (budak), dan Tuan.
Mengapa Kasih harus dimulai dari keluarga? Karena keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak, dimana anak belajar, tumbuh, dan berkembang. Dalam keluarga kita belajar mengenal kasih, kepada sesama dan kepada Tuhan. Hubungan dalam keluarga menjadi cerminan hubungan kita dengan Tuhan. Bagaimana peran orangtua dalam mendidik sebagian besar akan tercermin dari anaknya. Mungkin kita sering mendengarkan frasa “strawberry generation” yang merujuk kepada generasi yang terlihat bagus, cerah atau indah secara penampilan. Tetapi sangat rapuh, mudah pecah dan rasanya cenderung asam. Banyak orang yang memandang generasi ini sebagai generasi yang rapuh, tidak tahan terhadap tekanan, tidak suka akan proses dan lebih mementingkan penampilan luar diabandingkan softskill seperti tanggungjawab, kolaborasi, tolong menolong, dan lainnya yang mengutamakan karakter dan moral. Generasi semacam itu bukan lahir dengan sendirinya, namun ada peran orangtua yang seolah-olah membiarkan anak-anak bersikap “manja”. Dulu, ketika kita sebagai anak, kita sering tidak mendapat apa yang kita minta dari orangtua, atau bahkan harus berusaha sendiri agar apa yang kita mau terwujud. Dan mungkin orangtua kita bersikap sangat keras dalam mendidik, sampai harus menggunakan kekerasan fisik dalam mendisiplin kita sebagai anak. Dan setelah menjadi orangtua, tidak banyak orangtua yang memiliki tekad untuk tidak mengulangi apa yang mereka terima, seperti memberikan apapun yang anak mau, dengan tidak mengajarkan bagaimana mengusahakan untuk mendapatkan sesuatu. Dan ketika anak-anak melakukan kesalahan tidak berani menegur dengan alasan takut menyakiti hatinya. Bukan berarti pola asuh orangtua kita, kita samakan dengan pola didik kepada anak-anak kita. Tetapi lebih kepada bagaimana menanamkan dan mengajarkan hal-hal yang prinsipil dalam mendidik anak.
Ada beberapa prinsip yang harus kita pegang untuk menerapkan kasih dalam keluarga, yaitu:
1. Ketaatan Anak kepada Orang Tua (Ayat 1-2)
- Ketaatan yang diajarkan di sini adalah ketaatan yang seimbang, yaitu “di dalam Tuhan.” Artinya, ketaatan kepada orang tua tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran firman Tuhan.
- Menjadi orangtua bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan, bahkan tidak memiliki sekolah khusus bagaimana menjadi orangtua yang baik dan benar. Maka dari itu dengan menjadi teladan, anak-anak akan menghormati dan taat kepada orangtua.
Menjadi orangtua bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan, bahkan tidak memiliki sekolah khusus bagaimana menjadi orangtua yang baik dan benar. Maka dari itu dengan menjadi teladan, anak-anak akan menghormati dan taat kepada orangtua.
2. Janji Berkat melalui Ketaatan (Ayat 3)
- Kasih dalam keluarga mendatangkan berkat kebahagiaan dan kelangsungan hidup yang penuh damai.
- Hubungan yang dipenuhi kasih menciptakan suasana yang mendukung pertumbuhan anggota keluarga secara rohani dan emosional
3. Peran Orang Tua dalam Mengasihi dan Membimbing (Ayat 4)
- Orang tua dipanggil untuk mendidik dengan kasih, bukan dengan kekerasan atau pemaksaan.
- Kasih orang tua harus mencerminkan kasih Kristus yang sabar, penuh pengertian, dan membangun.
Kasih yang sejati berasal dari Tuhan. Oleh karena itu, setiap anggota keluarga perlu memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan agar dapat saling mengasihi dengan tulus. Keluarga yang dibangun di atas kasih akan menjadi berkat bagi sesama dan menjadi saksi kasih Kristus di dunia.