Kasih yang Lebih Dahulu Mengasihi Kita (1 Yohanes 4:19)
By: Pdm. Agustinus Samalle.
Pada minggu pertama di tahun 2025 ini, akan ditekankan agar kita memiliki Kasih seperti kasih Tuhan Yesus. Minggu yang lalu kita berbicara bagaimana Tuhan Yesus menjadi Sang Raja Damai karena Allah mengasihi manusia ciptaanNya. Maka atas inisiatif dari Allah kita diperdamaikan melalui kasih Yesus yang mati di kayu Salib. Kita akan melihat kasih seperti apa yang harus kita miliki. Dalam 1 Yohanes 4:19 dikatakan “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita”. Sebelum kita membahas ayat tersebut, ada beberapa konteks yang harus kita pahami bersama pada teks Alkitab tersebut, yaitu: (1) Surat ini sering memperbandingkan seperti terang dan gelap, kebenaran dan kebohongan, kebenaran dan dosa, kasih dan kebencian, mengasihi Allah dan mengasihi dunia, anak-anak Allah dan anak-anak setan, (2) Surat ini merupakan satu-satunya kitab Perjanjian Baru yang berbicara mengenai Yesus sebagai pengantara (parakletos) kita dengan Bapa, (3) Surat ini murni Kesaksian Perjanjian Baru, (4) Surat ini khusus menuliskan tentang Kristologi dan berfokus pada inkarnasi dan darah (yaitu, salib) Yesus, dan (5) Menekankan tentang Kasih Bapa.
Surat 1 Yohanes ini dituliskan untuk melawan penyangkalan kepada Yesus Kristus, yang diajarkan oleh ajaran sesat yaitu Gnostikisme. Umat Allah harus berusaha bersekutu dengan Kristus dan dengan demikian juga bersekutu dengan Allah. Maksud bersekutu adalah berada dalam hubungan yang erat dan benar dengan Allah. Ada 4 jenis kasih yang kita ketahui bersama yaitu, Kasih Filia (Kasih antar sahabat), Kasih Storge (Kasih antara orang tua dan anak), Kasih Eros (Kasih antara suami dan istri), dan Kasih Agape (Kasih Allah dan manusia), namun yang akan kita bahas adalah kasih yang tanpa syarat dan tanpa batas yaitu Kasih Agape. Karena selain kasih Agape, semua terbatas dan pastinya bersyarat. 1 Yohanes 4:19 harus menjadi pondasi yang kuat bagi pemahaman kita tentang kasih. Bukan karena kita sempurna atau kita layak, tetapi kita mengasihi Allah karena IA terlebih dahulu mengasihi kita. Tidak ada alas an, syarat atau batas untuk kita tidak mengasihi Allah. Mengasihi Allah bukan sebuah pilihan, namun hal itu adalah hal yang mutlak dan harus kita lakukan sebagai orang percaya. Kasih yang diberikan Allah kepada kita sangat tak ternilai karena Kasihnya tidak bersyarat, bukan karena siapa kita, apa yang sudah kita lakukan, baik atau tidak, melainkan karena kita adalah ciptaanNya yang segambar dan serupa dengan Dia. Bahkan Allah berinisiatif untuk memulihkan hubunganNya dengan manusia lewat kehadiranNya melalui Tuyah Yesus. (Yohanes 3:16); Kasih yang berkorban, puncak kasih Allah dinyatakan dalam pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Ia rela mati untuk kita, orang-orang berdosa. (Yoh. 19:28-30); Kasih yang Mengubah Hidup, kasih Allah memiliki kuasa untuk mengubah hidup kita. Dialah yang mengampuni dosa-dosa kita, memberi kita damai sejahtera, dan memberikan harapan baru. (Yoh. 4:39-42).
Karena besarnya kasih yang diberikan Allah kepada kita, kita harus meresponi kasih tersebut (Matius 5:45). Ada beberapa hal yang harus kita lakukan sebagai respon kita, yaitu:
- Mengucapkan Syukur: Sebagai respon atas kasih Allah, kita dipanggil untuk mengucap syukur. Syukur kita bukan hanya sebatas kata-kata, tetapi juga dinyatakan dalam hidup kita. (Lukas 17:15-16)
- Mengasihi Sesama: Kasih Allah memampukan kita untuk mengasihi sesama. Kita dipanggil untuk menjadi saluran kasih Allah bagi orang-orang di sekitar kita. (Yohanes 8:7-11)
- Menjadi Saksi Kristus: Kita dipanggil untuk menjadi saksi kasih Kristus kepada dunia. Dengan tindakan dan perkataan kita, kita harus menunjukkan kasih Allah kepada orang-orang yang belum mengenal-Nya. (Markus 16:15-16)
Selain itu dalam keterbatasan kita sebagai manusia, kita pasti menghadapi tantangan dalam hal mengasihi seperti Kasih yang Tidak Sempurna, kita sebagai manusia tidak mungkin mengasihi dengan sempurna. Namun, kita dipanggil untuk terus berusaha mengasihi dengan pertolongan Roh Kudus agar bisa mengasihi sama seperti, Allah adalah Kasih; Kasih di Tengah Perbedaan, mengasihi sesama, terutama mereka yang berbeda pendapat atau latar belakang, bukanlah hal yang mudah. Namun, kasih Kristus memampukan kita untuk melakukannya; Kasih yang Konsisten, Mengasihi bukanlah tindakan sesaat, tetapi sebuah gaya hidup. Kita harus terus mengasihi, bahkan ketika kita merasa lelah atau kecewa.
Kasih Allah adalah anugerah yang tak ternilai. Ketika kita memahami dan merespons kasih Allah, hidup kita akan mengalami transformasi yang luar biasa. Marilah kita terus mengasihi, bukan karena kita sempurna, tetapi karena Allah telah lebih dahulu mengasihi kita
Silahkan Klik link berikut untuk mendengarkan video lengkap https://youtube.com/live/X7Ce3mKUtNk