Kesetiaan (Seri khotbah buah – buah Roh) (Amsal 20:6)
By : Pdp. Nigel Tuegeh, S.Pi., M.Th
Kita telah belajar mengenai Buah-buah Roh, sampailah kita pada Buah Roh ke-7, yaitu Kesetiaan. Hal terpenting yang harus kita ingat yaitu Buah-buah Roh merupakan karakter Allah yang harus kelihatan dalam kehidupan orang percaya yang mengaku telah percaya, lahir baru, sebagai suatu kebiasaan atau gaya hidup. Dalam segala aspek kehidupan kita, Allah menginginkan setiap orang percaya menghasilkan buah Roh kesetiaan.
Kesetiaan dalam Bahasa Yunani (Galatia 5:22) berasal dari kata “pistis” (Πίστις) yang berarti “Iman” (Inggris: “Faith”). Dalam Perjanjian Baru, kata “pistis” paling banyak diartikan sebagai “iman”, termasuk dalam Ibrani 11:1. “Pistis” juga dapat diartikan sebagai “trustworthiness” atau “dapat dipercaya”. Dalam Perhjanjian Lama, kesetiaan berasal dari Bahasa Ibrani “Emunah” (אֱמוּנָה) yang berarti “Iman”. Secara hurufiah Emunah berarti teguh, kokh, setia, loyal. Emunah juga terhubung dengan kata “Amin” yang memiliki kata dasar “aman”, yang berarti menjadi kokoh atau permanen. Kesetiaan Tuhan pada kehidupan manusia sungguh besar, kita bangun pagi masih diberikan kesempatan untuk menjalani kehidupan walaupun Tuhan tahu kita akan membuat Tuhan kecewa. Namun itulah bentuk kesetiaan Tuhan yang nyata dalam kehidupan manusia. Maka penting untuk kita membahahas tentang kesetiaan Tuhan ini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), setia berarti berpegang teguh (pada janji, pendirian, dan sebagainya); tetap dan teguh hati (dalam persahabatan dan sebagainya).
Dua hal yang akan kita bahas pada kesempatan ini adalah:
- Kesetiaan kepada Allah (Faith), keyakinan yang dipegang teguh, kepatuhan, ketaatan;
- Kesetiaan dalam hubungan sesama manusia (Trustworthy), dapat dipercaya, loyal, setia.
Ada 4 hal yang terpenting yang akan dibahas tentang kesetiaan, yaitu :
- Keyakinan teguh
Keyakinan atau kepercayaan yang menggambarkan suatu penghargaan terhadap hubungan dengan Tuhan. Sikap ini harus dimiliki orang percaya sebagai tanda kesetiaan yang sejati. Sikap ini juga sekaligus menunjukkan bahwa orang – orang percaya menghormati Allah diatas segala – galanya bahkan mendahulukan kehendak Allah daripada kehendak pribadi. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Abraham, ia disebut sebagai Bapa orang percaya karena keyakinan teguh kepada Tuhan. Abraham mendengarkan perintah Tuhan untuk mengurbankan anak yang Allah janjikan sejak lama. Abraham memiliki keyakinan bahwa Allah mampu membangkitkan Ishak, anak Abraham ketika Abraham memberikan Ishak sebagai kurban. Namun Allah memandang keyakinan/Iman Abraham sebagai bentuk kepercayaan Abraham kepada Allah, maka Allah menggantikan domba sebagai korban pengganti Ishak.
- Loyal
Loyalitas seseorang tidak dapat kita lihat dalam waktu yang singkat, dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk melihat apakah orang itu setia atau tidak. Atau dengan kata lain, loyalitas orang akan teruji dengan proses yang ada. Proses untuk menunjukkan kesetiaan bukanlah hal yang mudah, bahkan tidak sering proses tersebut adalah sebuah hal yang membuat kita tidak berada dalam posisi yang nyaman. Ketika loyalitas tersebut sudah teruji, maka orang tersebut tidak dengan mudah berpindah hati atau berpaling meskipun banyak rayuan untuk menggugah loyalitasnya. Hal tersebut tercermin dalam kehidupan Ayub, sekalipun semua harta benda dan kepunyaannya hilang, Ayub tidak berpaling meinggalkan Allah, walaupun istrinya sempat berkata dalam Ayub 2:9 “Maka berkatalah isterinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah””. Namun Ayub menjawab dalam ayat 10 “Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk ?”. Respon Ayub menunjukkan kesetiaan Ayub kepada Allah apapun yang terjadi, baik atau tidak baik keadaannya.
- Ketundukan
Dalam bahasa Inggris mungkin dapat diwakili oleh kata ‘submission‘ atau ‘obedience‘. Yang dimaksud adalah ketaatan dan kepatuhan secara total, terhadap segala kehendak Tuhan. Kesetiaan dan ketaatan tidak mungkin dipisahkan. Karena tidak mungkin seseorang dikatakan setia, apabila ia tidak mau taat sepenuhnya. Hal ini dilakukan oleh Tuhan Yesus sebagai manusia, walaupun dalam rupa manusia Yesus sempat berkata “…Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”, hal itu menunjukkan kelemahan manusia akibat sudah tidak dapat lagi menahan rasa sakit yang dialami. Tetapi Tuhan Yesus tetap tunduk kepada kehendak Bapa untuk setiap sampai mati di kayu salib untuk menggenapi kehendak Allah. Mungkin Tuhan Yesus bisa saja melakukan apa saja yang Dia mau, tetapi tidak akan ada sikap tunduk yang terjadi dan bahkan tidak aka nada orang Kristen sampai saat ini. Ketundukan sangat penting untuk dimiliki oleh kita sebagai ungkapan kesetiaan kita kepada Allah.
- Dapat dipercaya
Dapat dipercaya atau layak untuk dipercaya adalah hal yang tak kalah pentingnya untuk menunjukkan sikap setia. Orang yang setia sudah pasti layak untuk dipercaya. Menjadi orang yang dapat dipercaya tidak datang begitu saja, tetapi melalui proses-proses dalam hidupnya yang menunjukkan bahwa seseorang mampu bertanggung jawab dalam hal apa ia diminta atau disebut berintegritas. Ketika seseorang sudah layak dipercaya, maka tidak aka nada lagi keraguan dalam diri orang lain untuk menyatakan kesetiaannya. Demikian juga yang dialami oleh Yusuf ketika menjalani proses demi proeses kehidupannya, mulai dari dijauhi saudaranya, diberikatan mati, bahkan dijual sebgai budak. Hal itu tidak membuat Yusuf menjadi orang yang arogan atau memiliki perasaan balas dendam. Justru proses tersebut menjadikan ia menjadi pemimpin/perdana Menteri di Mesir. Yang walaupun istri dari Potifar mencoba untuk meruntuhkan kesetiaan Yusuf, ia tidak goyah. Tetap percaya dan setia kepada Allahnya. Kesetiaan tidak dapat dibeli dengan UANG. Karena kesetiaan adalah hasil dari karakter yang terus diproses untuk semakin mengenal dan mengasihi ALLAH. Amsal 20:6 menuliskan “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?”. Ayat ini merupakan sebuah observasi atau pengamatan secara cermat oleh penulis Amsal, yang menggambarkan sebuah keadaan hidup manusia dimana ada banyak orang yang mengaku baik hati, namun kenyataannya penulis Amsal sulit menemukan orang yang benar-benar setia. Ditutup dengan pertanyaan retoris yang mengharapkan jawaban “tidak ada” atau “sulit ditemukan”.
Dari ayat ini kita dapat menyimpulkan bahwa:
- Orang yang benar-benar setia jarang ditemukan.
- Kesetiaan lebih berharga dari hubungan kasih.
- Kesetiaan perlu ditunjukkan bukan dengan janji, tapi dengan bukti.
Bagaimana caranya kita mempertahankan kesetiaan kita?
- Rela Berkorban bagi Orang Lain (Yohanes 15:13)
- Jangan Tinggalkan Kasih Mula – Mula (Wahyu 2:4-5)
- Sekuat Tenaga Menjaga Hati (Amsal 4:23)
Amin, puji Tuhan.🙏🙏🙏
Terpujilah nama Tuhan