Kelemahlembutan (Seri khotbah buah – buah Roh) (Matius 5:5)
By : Pdp. Nigel Tuegeh, S.Pi., M.Th
Kita akan melanjutkan seri buah-buah Roh yaitu kelemahlembutan. Tidak bisa dipungkiri bahwa kita hidup pada generasi yang penuh dengan kekerasan. Bahkan kekerasan sekarang bukan lagi kekerasan secara fisik, tetapi juga kita mengenal kekerasan secara verbal, dan juga kekerasan secara mental. Maka dari itu sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus, kita wajib memiliki sikap kelemahlembutan. Kelemahlembutan yang tertulis dalam Galatia 5:23 berasal sari kata Yunani “prautes” (πραΰτης) yang memiliki kata dasar “praus” mengarah kepada sikap batin, yang memiliki arti mengontrol amarah, memiliki ketundukan kepada Allah, dan rendah hati. Kata lemah lembut ini sering juga disebut sebagai sikap kerendahan hati, seperti apa yang dituliskan dalam Mazmur 37:11 “Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah”. Orang-orang percaya memiliki kelemahlembutan jika Roh Kudus bekerja.
Prautes digunakan orang-orang Yunani untuk menggambarkan kata-kata yang lembut, obat yang menenangkan, hewan yang jinak, dan orang-orang yang baik hati. Kata “Prautes” merupakan kebalikan dari kemarahan yang tak terkendali, kekasaran, atau kebrutalan. Kata ini digunakan untuk menggambarkan orang bijak yang tetap tenang saat menghadapi hinaan, hakim yang bersikap lunak dalam mengambil keputusan, dan raja yang baik dalam memerintah. Kelemahlembutan lebih tepat digunakan untuk orang-orang yang memiliki sikap yang rendah hati, bukan menunjukkan kelemahan dan kelembutan. Lemah lembut bukan berarti kita tidak boleh marah. Karena dalam kekristenan, semua tokoh Alkitab pernah marah, termasuk Yesus sendiri, Ia marah menunggangbalikkan meja penukaran korban untuk mempermainkan Bait Allah yang dijadikan sarang penyamun bukan untuk sarana bertemu dengan Tuhan. Sikap lemah lembut adalah mereka yang mampu melampiaskan marahnya di waktu yang tepat dan tidak berlebihan. Kelemahlembutan juga digambarkan sebagai sebuah kekuatan, bukan sebagai kelemahan.
Ada beberapa ciri-ciri orang yang lemah lembut
- Memiliki sikap rendah hati (Matius 23:11-12)
- Memandang orang lain lebih utama Memandang orang lain lebih utama (Filipi 2:3)
- Tidak membalas dendam (1 Petrus 2:23-24)
- Bisa mengendalikan diri (Mazmur 37:3)
- Melayani orang lain (Matius 20:28)
- Berserah total kepada kehendak Tuhan (Matius 26:39)
- Berani berkata ya diatas ya, tidak diatas tidak. (Keluaran 32:19, Matius 21:12-16)
Matius 5:5 menuliskan “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi”. Orang yang lemah lembut dikatakan adalah orang yang berbahagia (Yunani : Makarios “μακάριος”; Ibrani : Ashrey “אָשֵׁרִי”). Bahagia disini bukan hanya terkait dengan perasaan atau sekadar jiwa yang senang, tetapi berarti terberkati, beruntung, karena kebaikan surgawi. Jadi bukan kebahagiaan yang dihasilkan sendiri melainkan karena ada karya Roh Kudus disana. Karena mereka memiliki bumi, tidak dapat diartikan secara hurufiah bahwa kita akan memiliki bagian bumi yaitu banyak tanah, materi, atau menjadi kaya raya, namun dapat diartikan bahwa kita akan memiliki hidup yang diberkati oleh Tuhan. Kata “memiliki bumi” dan “mewarisi bumi” memiliki kesamaan yaitu kita akan mendapatkan berkat oleh karena Tuhan. (Mazmur 25:13; Mazmur 37:9, 11, 22, 29, 34; Yesaya 57:13).
Sikap lemah lembut harus kita miliki sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Bukan kepada orang-orang tertentu kita menunjukkan bahwa kita memiliki kelemahlembutan, tetapi kepada semua orang. Baik di lingkungan sekitar, ditempat bekerja, disekolah, dikampus atau dalam masyarakat. Biarlah kelemahlembutan kita dirasakan oleh setiap orang yang kita temui agar nama Tuhan dipermuliakan lewat hidup kita.
Haleluya!
Tuhan berkati GBIN Galilea