Penguasaan Diri (Seri khotbah buah – buah Roh) (Galatia 5:23)
By : Pdm. Agustinus Samalle.
Ini adalah bagian terakhir dari seri buah-buah Roh yang akan kita pelajari. Bagian ini adalah bagian yang sangat penting yang mungkin banyak orang Kristen lupa untuk menerapkannya dalam kehidupan. Dalam KBBI kata “pengendalian” memiliki arti proses, cara, perbuatan mengendalikan; pengekangan. Pengendalian diri adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya sendiri secara sadar agar menghasilkan perilaku yang tidak merugikan orang lain, sehingga sesuai dengan norma sosial dan dapat diterima oleh lingkungannya. Secara luas, pengendalian diri adalah tindakan yang mampu mengkondisikan diri agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam Bahasa Yunan pengendalian diri yang tertulis dalam Galatia 5:23 disebut “ἐγκράτεια” (enkrateia), yang berasal dari akar kata “ἐν” (en, berarti “di dalam”) dan “κράτος” (kratos, berarti “kekuatan” atau “kuasa”). Secara harfiah, enkrateia berarti “memiliki kuasa atas diri sendiri” atau “kendali atas diri sendiri”. Peneliti bernama Calhoun dan Acocella mendefenisikan pengendalian diri atau self-control sebagai sebuah pengaturan dari proses fisik, psikologis, maupun perilaku seseorang. Pengendalian diri dapat disimpulkan sebagai sebuah serangkaian proses yang terjadi untuk membentuk dirinya sendiri.
Dari apa yang dipaparkan di atas, ada 4 hal yang bisa kita pelajari mengenai penguasaan diri, yaitu:
1.Penguasaan Diri adalah Karakter Allah yang Harus Diteladani
(2 Petrus 3:9) “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat”
Mari kita ingat kembali bagaimana Allah membumihanguskan manusia pada zaman Nuh, setelah itu Allah berkata tidak akan lagi melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya, apapun yang terjadi. Allah menunjukkan karakterNya agar manusia tidak binasa (kembali).
Kita adalah ciptaan yang serupa dan segambar dengan Allah (Kejadian 1:27), untuk itu kita harus menyerupai dan bahkan sama dengan karakter dengan Allah. Pengendalian diri adalah karakter dari Allah yang tidak menginginkan manusia binasa.
2. Penguasaan Diri Adalah Buah dari Kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus
(Galatia 5:16) “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging”
Ayat tersebut jelas mengingatkan kita agar terus dipimpin oleh Roh Kudus agar kita hidup tidak hidup menurut daging. Hal ini pernah dilakukan oleh Petrus, dimana dia tidak hidup dipimpin oleh Roh. Petrus berdiri seolah-olah menjadi pembela Tuhan Yesus yang mengatakan akan maju jika terjadi apapun terhadap Tuhan Yesus, namun yang terjadi adalah Petrus menyangkal Tuhan Yesus ketika orang banyak mengakatan “Bukankah engkau adalah bagian dari orang yang Nazaret itu”, “Bukan, aku tidak mengenalNya”. Hal itu dilakukan 3 kali sampai ayam berkokok sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus katakana, “Sebelum ayam berkokok 3 kali, engkau telah menyangkal Aku”. Kehidupan Petrus kala itu mencerminkan kehidupan orang yang tidak dipimpin oleh Roh, tetapi menggunakan pemikiran dan kekuatan sendiri (Kisah Para Rasul 2:14-15)
3. Penguasaan Diri Menjaga Hubungan dengan Allah dan Sesama
Dalam pikiran: Menolak pemikiran negatif, kekhawatiran, atau keinginan yang bertentangan dengan firman Tuhan (Filipi 4:8).
Dalam perkataan: Mengendalikan lidah agar hanya mengucapkan hal yang membangun (Yakobus 1:26).
Dalam perbuatan: Menghindari tindakan yang tidak memuliakan Allah (1 Korintus 6:19-20).
4. Penguasaan Diri Membawa Kehidupan yang Berbuah dan Berarti
Orang percaya yang memiliki penguasaan diri hidup dengan tujuan dan tidak mudah terombang-ambing oleh situasi atau emosi. (Kejadian. 39:8)
Hidupnya akan menjadi kesaksian bagi dunia bahwa Allah bekerja dalam dirinya (Matius 5:16).
Lalu, bagaimana caranya kita bisa mengendalikan diri? (1 Korintus 9:25)
Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan agar kita bisa mengendalikan diri, ini bukanlah suatu proses yang satu atau dua kali kita lakukan dan kita langsung dapat mempraktikkannya, tetapi sebuah kebiasaan yang terus menerus berproses samapai hal itu menjadi kebiasaan dan lama kelamaan akan menjadi karakter. 1) Suka berdoa dan melakukan pujian penyembahan, 2) suka membaca Firman Tuhan (Alkitab), 3) Belajar berpuasa. Kesimpulannya penguasaan diri bukanlah hasil usaha manusia semata, tetapi buah dari hidup yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Roh Kudus. Ketika kita memiliki penguasaan diri, kita dapat menjalani hidup yang kudus, menjadi berkat bagi sesama, dan memuliakan Allah dalam segala hal. Mari kita belajar bersama untuk hidup dimpmpin oleh Roh agar kita bisa mengendalikan diri kita dan senantiasa menjadi berkat bagi sesama. Tuhan Yesus memberkati kita semua.